-->

Ketika Aku Benar Benar Mengalami

No comments

Dimalam ini ketika aku mendengarkan bunyi seruling Tibet, kilas balik menyelimuti kepalaku, air mata ikut hanyut bersama dengan lantunan denting denting gemercik suara malam yang sunyi.




Sudah tidak terasa, bahkan tak menyangka aku bisa duduk disini, di malam ini hingga saat ini, bagaikan terbangun dari tidur yang mana kemarin aku masih bisa merasakan tawa serta kemyamanan dalam hidup, hidup yang sangat sederhana, sedikit sekali problema yang ada di kepala, bahkan menikmati senja setiap hari nya pun masih bisa ku lakukan, ketika aku pulang dari bangku sekolah yang penuh sekali memori indah walau tak sebanyak mereka yang memiliki nya. ketika aku menikmati embun beserta udara pagi dengan berjalan kaki, ketika aku tak rela jika bertemu hari libur karena tak bertemu dia, ketika aku benar benar akan kehilangan rasa nyaman klarena baru saja memiliki sahabat,ketika aku akan tidak bisa lagi melihat dia, ketika penyesalan akan selalu ada karena belum juga aku mengungkapkan nya, karena di hari itu adalah hari hari terakhir kelulusan akan tiba.

Pukul 10 malam sudah mulai menyambut ku, lantunan seruling yang masih menggema selalu setia menemaniku, walau tubuh ini tak sekuat dulu lagi, tubuh yang perlahan menunjukan batas nya, sungguh terasa sesak dan jantung pun terkadang terkoyak, rasa dingin di telapak kaki dan tangan sudah tidak asing lagi, entah apa yang harus aku lakukan, hanya saja aku terlalu lelah dan malas untuk memikirkan semua ketakutan ini.
Perlahan aku menemukan memori dimana ketika aku benar benar menemukan mu, iya kamu, kamu yang pernah aku miliki, walau mungkin tak pernah ada dia antara kita status yang mungkin membingungkan, namun bagiku aku tidak peduli, karena aku benar benar memiliki mu saat itu, ketika hawa panas terik siang yang begitu menyengat, aku benar benar merasa bahagia , hari hari yang tak pernah aku lupakan hingga saat ini, ketika tangan kita saling bergandengan, menembus udara panas kota jakarta, tak pernah sekalipun rasa sesal yang aku miliki hingga kita berhenti di sebuah monumen nasional hingga senja menyabut kembali untuk mengakhiri cerita di hari yang sangat istimewa bagi ku.

Semakin malam, akupun semakin terbawa suasana, ketika melihat ke arah jam, aku pun kembaki mengingat dimana sebuah kota yang tak pernah aku lupakan, kota yang menjadi satu satunya kenangan indah bersama mu, walau pada akhirnnya kamu bisa membuat kenangan kenangan yang lain nya , kenangan yang lebih indah tentunya, di tempat yang lebih indah juga bersama orang yang lebih indah tentu nya.
Tidak mengapa bagiku jika kamu melupakan satu satu nya tempat yang menurut ku sangat penuh dengan kenangan, karena hanya satu hari bersama mu di tempat itu, tentu tidak lah mudah dibanding dengan tempat tempat lain yang kamu miliki bersa manya tentu nya.

Bagiku sudah cukup, walau pengalaman ku sangatlah sedikit, karena aku terlalu banyak menghabiskan waktu di satu tempat saja, bagiku, dunia luar memang terasa berat, belum lagi banyak tantangan yang mungkin aku tak sanggup untuk menghadapi sendirian, teringat ketika aku benar benar tak pernah bisa menghadapi nya sendirian, ketika aku mencoba untuk bertemu dia dari kota lain, ketika aku harus memulai perjuangan yang mungkin memang harus aku lakukan, karena memang mau tidak mau aku ingin ada perubahan ketika aku hanya berlarut larut menangisi mu, mungkin sudah saat nya aku untuk melangkah kedepan mencoba menemukan hal yang membuat ku merasa lebih baik lagi.
Namun lagi lagi ini soal keberanian, dan dunia luar tidak lah mudah bagi ku, dengan kondisi tubuh ku yang tidak memungkin kan untuk selalu berjuang menemukan dia.
Dan benar saja, semua nya hanya sia sia, ketika perjuangan ku berakhir menjadi abu yang mungkin tak pernah lagi aku bentuk menjadi tanah liat.

Banyak hal yang tak pernah aku lupakan, di malam ini, aku berusaha untuk terus mengingat nya, dan terlalu banyak hingga aku tak sanggup lagi menahan nya, karena itu hanya lah luka kebanyakan.
Disini, aku masih saja belum menemukan yang aku cari, masih merindukan yang aku alami, dan masih ingin terus hidup walau raga ini tak lagi mengasihi. Mungkin.

Comments